KINIGORONTALO.COM, Kota Gorontalo – Ribuan pasang mata tertuju ke panggung Asrama Haji Gorontalo, Sabtu (10/01/26). Di ruang yang dipenuhi semangat refleksi dan kehangatan, Yayasan Gorontalo Baik Indonesia (GOROBA) bersama Saling Jaga Kita Bisa menghadirkan Kajian Titik Balik, sebuah ruang dakwah yang tidak hanya mengajak merenung, tetapi juga merangkul semua kalangan tanpa kecuali.
Kegiatan kajian teresebut menghadirkan pendakwah nasional Habib Husein Ja’far Al Hadar, Habib Salim bin Abdurrahman Al Jufri, serta Ustad Rosman Manto sebagai moderator. Kajian ini diikuti sekitar seribu peserta dari beragam latar belakang. Di antara lautan jamaah, hadir pula puluhan penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara, sebuah pemandangan yang menegaskan komitmen dakwah inklusif yang digaungkan panitia.
Komitmen tersebut tidak berhenti pada simbol. Sepanjang kajian berlangsung, panitia menghadirkan Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang sigap menerjemahkan setiap pesan dakwah. Dengan demikian, seluruh peserta dapat mengikuti kajian secara setara, tanpa ada yang tertinggal.
Dalam tausiyahnya, Habib Husein Ja’far mengajak peserta menengok kembali makna kesempurnaan dan rasa syukur. Ia menegaskan bahwa setiap ketetapan Allah telah diberikan secara sempurna, sementara tugas manusia adalah belajar menerimanya dengan lapang dan penuh rasa syukur.
“Seharusnya pemberian Allah itu tinggal bagaimana cara kita menikmatinya dan bagaimana cara kita mensyukurinya,” ujar Habib Husein di hadapan jamaah.
Ia juga menekankan bahwa perubahan besar dalam hidup kerap lahir dari keberanian menata hati. Ketulusan, menurutnya, menjadi kunci untuk menerima setiap ketetapan Allah dengan tenang. “Perubahan besar itu dimulai dari hati yang tulus. Maka tuluskan hati dan terimalah segala ketetapan Allah,” katanya.
Tak kalah menyentuh, Habib Husein mengajak peserta memahami arti berhenti dalam perjalanan hidup. Berhenti, katanya, bukanlah tanda menyerah, melainkan kesempatan untuk bernapas sejenak, bermuhasabah, dan memastikan arah hidup tetap lurus.
“Kita berhenti bukan karena lari, tetapi untuk berhenti sejenak, istirahat, bermuhasabah, dan memperhatikan kembali arah hidup,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Habib Husein juga menyoroti masih terbatasnya dakwah ramah disabilitas. Ia mengungkapkan adanya pengakuan dari peserta tunarungu yang kerap mengalami kekeliruan dalam memahami ajaran agama karena minimnya akses dakwah yang inklusif.
Menurutnya, Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin seharusnya dapat diakses oleh seluruh umat tanpa pengecualian. Ia pun mengingatkan kisah dalam awal Surah ‘Abasa sebagai teguran Allah agar umat Islam tidak mengabaikan kelompok disabilitas.
Apresiasi atas pelaksanaan kajian ini datang dari Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (GERKATIN) Gorontalo, Ferlan S. Ibrahim. Ia menyebut Kajian Titik Balik sebagai pengalaman berharga yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
“Kegiatan ini sangat bagus dan inklusif karena mengundang teman-teman Tuli dari GERKATIN serta menyediakan akses JBI. Selama ini kami mengikuti kajian tanpa pernah ada akses bahasa isyarat. Ini baru pertama kali kami merasakan kajian dengan akses JBI, dan kami sangat senang,” ungkap Ferlan.
Ia berharap ke depan semakin banyak kegiatan keagamaan yang membuka ruang setara bagi penyandang disabilitas, agar dakwah benar-benar dapat diakses oleh semua kalangan.
Sementara itu, Founder GOROBA, Ririn, menegaskan bahwa Kajian Titik Balik lahir dari niat sederhana untuk memanusiakan manusia. Ia berharap kegiatan ini menjadi pemantik lahirnya lebih banyak ruang dakwah yang inklusif, ramah, dan penuh empati.
“Goroba lahir dari hati, dari niat sederhana untuk membantu yang lemah dan melindungi yang rentan. Dari gerobak kecil yang membawa harapan, kini menjadi gerakan yang menyala dari hati ke hati,” jelasnya.
Ririn menambahkan, Titik Balik merupakan ajakan untuk merefleksikan diri yang lama, lalu kembali melangkah dengan versi diri yang lebih baik.
“TITIK BALIK adalah ruang untuk memulai kembali, tanpa harus menunggu semuanya sempurna. TITIK BALIK adalah momen ketika kita berkata, ‘Ya Allah… aku ingin kembali’,” pungkasnya. (rls)











