KINIGORONTALO.COM – Menjelang Lebaran, suasana di Kota Gorontalo selalu dipenuhi dengan kegiatan yang khas, salah satunya adalah hadirnya Pasar Senggol. Pasar Senggol sendiri, sudah menjadi tradisi tahunan oleh masyarakat Gorontalo dalam menyambut hari raya Idulfitri. Meski disambut dengan antusias, keberadaan pasar ini juga tak lepas dari tantangan, khususnya kemacetan yang diakibatkan oleh ramainya aktivitas di kawasan perdagangan. Para konsumen yang berdesakan di pasar, pedagang yang sibuk melayani, serta lalu lintas yang begitu padat, menciptakan suasana yang berbeda menjelang hari raya di Gorontalo. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman konsumen dan pedagang dalam menghadapi Pasar Senggol?
Salah seorang warga, Alkip, yang hendak mencari kebutuhan di pasar senggol menyampaikan pendapatnya mengenai kondisi saat ini. “Kondisi sekarang, suasana jalan banyak macet. Lalu lintas susah karena ada pasar senggol,” ungkap Alkip. Kata Alkip, dampak langsung dari kepadatan pengunjung pasar senggol membuat lalu lintas di sekitarnya tersendat. Di sisi lain, para pedagang yang terlibat dalam kegiatan tahunan ini sudah terbiasa dengan suasana Pasar Senggol. Seorang pedagang berpengalaman mengatakan, keramaian di pasar senggol akan berlangsung saat tiga hari menjelang lebaran. “Kami buka toko seharian dari hari Selasa, vibes belum terasa, biasanya terasa nanti tiga hari menjelang Lebaran,” terang salah satu pedagang, yang enggan menyebutkan namanya. Artinya, meskipun pasar mulai buka lebih awal, atmosfer keramaian baru benar-benar terasa saat semakin mendekati hari raya. Para pedagang mulai merasakan peningkatan aktivitas jual-beli saat mendekati H-3, ketika pembeli membludak dan suasana pasar menjadi semakin hidup.
Pada awalnya Pasar Senggol sudah menjadi tempat belanja utama bagi masyarakat Gorontalo karena berbagai kebutuhan Lebaran tersedia di tempat tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, keadaan mulai berubah. Hari demi hari, semakin banyak pedagang yang memilih membuka toko mereka sendiri, meninggalkan lapak-lapak yang dulu ramai. Selain itu, perubahan gaya hidup masyarakat juga terlihat, di mana pembeli kini lebih sering beralih ke belanja online yang menawarkan kenyamanan tanpa harus berdesakan di tengah keramaian pasar. Pasar Senggol masih ada, tetapi pesonanya perlahan bergeser.
Meski telah berubah seiring waktu, Pasar Senggol tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Lebaran masyarakat setempat. Namun, di tengah perubahan tersebut, Pasar Senggol masih menyimpan kenangan dan semangat Lebaran yang kuat. Bagi mereka yang setia, pasar ini tetap menjadi simbol kebersamaan dan tradisi yang terus hidup di tengah hiruk-pikuk modernisasi.